Thursday, October 13, 2016

Pengalaman dan Pelajaran dari Film Cut Nyak Dien

Pengalaman dan Pelajaran dari Film Cut Nyak Dien


Tokoh Cut Nyak Dien adalah salah satu pejuang Islam yang berasal dari aceh yang memperjuangan dan mempertahankan tanah kelahirannya , rela berkorban, berjuang habis-habisan tak kenal lelah, pantang menyerah meskipun usianya sudah tua renta namun semangat nya tak pernah surut, dia mampu memimpin rakyat aceh dalam melawan kampe-kampe penjajah yang berusaha menindas rakyatnya.

Ketika saya menyaksikan sebuah satu film sejarah ang menceritakan tentang perjuangan rakyat aceh yang dipimpin oleh seorang pejuang perempuan yaitu Cut Nyak Dien.

Cut Nyak Dien, lahir pada tahun 1848  dari keluarga bangsawan aceh,  merupakan keturunan dari
Cut Nyak Dien, adalah seorang pemimpin rakyak aceh ketika melawan Belanda yang memiliki persenjataan lebih lengkap, setelah bertahun-tahun bertempur, pasukan nya terdesak
Ketika saya menyaksikan Film “Tjoet Nja’ Dhien” sangat terharu sekali melihat bagaimana perjuangan rakyat Aceh dalam Mengusir bangsa Belanda. Menurut saya pribadi beliau merupakan Perempuan paling hebat dan sekaligus pemimpin yang sangat tangguh,
 yang berusaha merebut kekuasaan nya di tanah aceh/

Bisa kita lihat dan saksikan bagaimanakah Perjuangan Cut Nyak Dien dalam sebuah film drama epos yg berjudul “Tjoet Nja’ Dhien” pada tahun 1988. Film ini disutradarai oleh Eros Djarot dan dibintangi oleh Christine Hakim sebagai Tjoet Nja’ Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar dan juga di dukung oleh Rudy Wowor.


Film ini memenangkan Piala Citra sebagai film terbaik dan merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989).
Mungkin bisa disebut salah satu Pejuang Perempuan yang bernyali singa, Cut Nyak dien menolak untuk menyerah,

Sejarah mencatat, bahkan penulis belanda sendiri mengakui para ulama dan pejuang Islam di Aceh pantang menyerah terhadap penjajah kafir Belanda.

Dalam menghadapi invasi belanda
Penulis Belanda H.C Zentgraaff dalam bukunya yang mahsyur, Atjeh, menulis:
“Yang sebenarnya ialah bahwa orang-orang Aceh baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Diantara peuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang menjadi kebanggaan setiap bangsa; mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita”.

Belanda mengakui Perang Aceh adalah perang paling lama dan paling sulit dalam sejarah kolonial. Perang aceh hampir membangkrutkan keuangan Kerajaan Belanda. Di kedua belah pihak banyak memakan korban. Bukti sejarah terpampang jelas di Pekuburan kerchof. Terdapat ribuan jasad tentara belanda dari jenderal sampai prajurit. Dimakamkan disana.

Aksi nekad para pejuang aceh laksana bom syahid yang dilakukan oleh pejuang Palestina terhadap Israel atau kamikaze yang dilakukan tentara Jepang terhadap AS pada perang Dunia II.


Islam menjadi agama resmi Kerajaan Aceh Darussalam. Aceh dan Islam ibarat sekeping mata uang yang tidak bisa dipisahkan atau seperti ikan yang tidak bisa hidup tanpa air karena segenap aspek kehidupan masyarakat Aceh telah diawarnai oleh Islam.

Hijrah kali ini erat hubungannya dengan keimanan, berjuang melawan kampe-kampe penjajah
Yang merupakan bagian dari keimanan

Tapi saya merasa bersyukur, karena yang ada disekelilingku sekarang hanyalah orang-orang yang mengerti arti perjuangan dalam keimanan,

Taktik bumi hangus, strategi perang, sepandai-pandai siasat, tipu muslihat

Didik dan besarkan anak2 kita
Bacakan hikayat perang sabil dalam hidup mereka
Agar tidak menjadi anak liar, anak durhaka
Tak mau mendengar petuah
Seperti anak2 tidak terdidik
Bila kami syahid
Mereka akan bangkit
Meneruskan perjuangan di jalan Allah
Yang perlu di Ingat hidup bahu-membahu dan mati syahid 

0 comments:

Post a Comment